Wednesday, 12 August 2015

call it a proper goodbye

Hai. Halo. Aku nggak tahu sih kamu baca ini atau nggak, tapi aku nggak peduli.

... Apa kabar?
I hope you're doing well at school. Sepertinya sekolah membuat kita semua sibuk sekali, ya? Sekolahku pakai kurikulum lama tapi tetap saja tiap pulang ke rumah, badanku serasa remuk.

Tunggu, tadi aku mau bilang apa ya?

Ah ya. It's been ages since the last time we talked. I guess you don't miss me, because it seems so.

Hari pertama pesanku cuma kau baca, aku bisa memaklumi. Aku tahu kok, dirimu berubah jadi orang sibuk sejak masuk SMA.

Hari kedua, tetap saja cuma kau buka tanpa balasan apa-apa. Oke, aku cuma bisa mengedikkan bahu. Barangkali lelah menyerang sehingga jari-jarimu enggan mengetik hal-hal panjang.

Begitu, begitu terus sampai hari kesekian karena aku letih menghitung dan akhirnya menyerah. Hei, kalau memang semua ini hendak kau akhiri, kenapa tak pernah kau ucap selamat tinggal yang jelas?

Aku nggak sakit hati kok, sungguh. Aku cuma kesal. Terasa betul bedanya untukmu kan? Semuanya kubiarkan seperti itu karena aku masih berpikir dirimu begitu sibuk, walaupun agak ganjil juga untuk tetap konsisten cuma membaca pesan selama seminggu, betul-betul tanpa balasan apa pun. Anak kelas 10 SMA memangnya sesibuk apa?

Semuanya masih kurasa wajar hingga adikmu membahas kepindahan tempat tinggalmu yang sekarang dekat dengan kos putri, serta kau yang masih sering meneleponnya. Ha, kalau punya waktu untuk menelepon adik, kenapa pesanku cuma terbaca saja, ya?

Semuanya mendadak jelas. You don't want me in your life anymore.

Aku nggak salah kan?

Nope, semuanya tertebak kok. Memang wajar sekali. Memangnya aku siapa? Dibandingkan perempuan-perempuan yang pernah ada dalam hidupmu sebelumnya, aku tahu aku cuma butiran debu. Semua ini membuat kata-kata salah satu teman baikmu kembali terngiang jelas, mungkin aku memang pelarian. Kau katakan terserah hendak percaya atau tidak. Dulu aku nggak peduli. Tapi setelah apa yang terjadi akhir-akhir ini, apa nggak bodoh kalau aku tetap menganggapnya angin lalu?

Ah, sudahlah. Kutulis panjang begini, belum tentu kaubaca sampai habis. Seorang teman baik yang sudah kau anggap jadi kakak menyarankanku untuk berbicara, tapi melihat pesan-pesanku yang cuma kaubaca saja aku kesal setengah mati. Nggak, aku nggak mau kembali mengirimimu pesan. Enak saja, aku nggak mau dicuekin lagi.

Sebenarnya inti tulisan ini apa, ya?

Mungkin kekesalanku atas semua pesan tak terbalas. Tapi bisa jadi juga jeritan tanya mengapa semuanya jadi seenggak jelas ini.
Ralat. Jelas, deng.
Ini minta putus diam-diam, 'kan?
Siapa yang tahu kamu nggak tega, jadi pergi perlahan tanpa pamit?
Ya sudahlah, toh aku tahu perempuan-perempuan Kota Apel memang cantik-cantik, heuheuheu.

PS : kalau Lebaran kamu pulang, tolong tetap datang ke rumah. Bosan juga kudengar pertanyaan orang-orang di sekitarku tentangmu. Selama ini aku cuma bisa menggelengkam kepala sembari mengangkat bahu. Tapi sekarang mungkin sudah jelas, ya? Berarti, kalau kuhitung-hitung, aku mantanmu yang ketujuh. Betul nggak? Kalau iya, biarkan aku merasa takjub, karena itu salah satu angka favoritku selain 2, 5, 9 dan 8. Hahaha.

No comments:

Post a Comment