Saturday, 15 June 2013

What A Great Birthday Party!


Holaaa! Finally aku bisa nyentuh blog lagi setelah ditinggal hiatus gegara UKK. Oke, I bring you an amazing story!

Salah satu bestie-ku, Adissa Denaya Dano a.k.a Adissa tuh ultah 15 Juni kemaren. Ternyata, bundanya nelepon pihak sekolah untuk membantu membuat jebakan buat Adissa. Jadi, anak-anak kelas 7Amazing, kelasku tercinta, diminta untuk bantu-bantu juga. Bantu apaan? Ya bantu akting pura-pura gatau apa yang terjadi.

Jadi, skenarionya itu, Pak Narto, guru Matematika paling baik yang pernah kukenal tapi nilaiku gapernah di atas 90 (yaampun, buka kartu, nih. Aulia cian banget gapernah dapet seratus, HAHAHA. Eh, pernah deng. Pas semester satu, bab bilangan bulat, MUAHAHAHA. Oke, abaikan), manggil Adissa ke kantor karena dia harus remedial. KKM Matematika itu 70 dan nilainya di bawah 50. Unexpected plan, sih. Aku diseret Adissa dengan sadis supaya nemenin dia pergi ke kantor. 

Jadi, nyampe kantor, Adissa diceramahin macem-macem. Dan bukan cuma nilai Math Adissa yang gak tuntas, tapi juga IPA dan Bahasa Inggris.
Baca itu baik-baik! BAHASA INGGRIS! GILA!

Aku cuma cengo, gak nyangka kalo rencana penjebakannya sampai sesadis ini. Adissa yang selalu dapat nilai 100 di tiap pertemuan mapel Bahasa Inggris nilainya gak tuntas?!

Adissa mewek di tempat. Tapi dia enggak menangisi Matematika dan IPA, melainkan karena Bahasa Inggrisnya yang kata Pak Narto gak tuntas. Pak Narto hebat banget, tau di mana kelemahan Adissa. Adissa itu bisa down banget kalo dibilangin Bahasa Inggrisnya rendah. Yaiyalah, Bo, Bahasa Inggris mah, gak ada sulit-sulitnya.

Dan perbincangan selanjutnya adalah, Adissa terancam gabisa naik kelas karena ada 3 matpel yang gak tuntas. Dan yang bikin shock itu ya karena Adissa anak kelas A. Di mana-mana juga kelas A kan kelas unggulan—tempat anak-anak berkacamata yang majalah favoritnya adalah buku Fisika tebel dan tontonannya adalah kartun edukasi— berkumpul.

Adissa pamit sama Pak Narto dan sepanjang perjalanan balik ke kelas, dia mewek gaberhenti-berhenti. Mana nyampe kelas pake ada acara banting kursi, lagi. Yusri, cowok paling pendek di kelas lari-lari ke Axel dan Aldo yang lagi anteng internetan menggunakan laptop Weda. Akumah langsung gabung sama mereka berdua karena kayaknya yang dicari di internet itu asyik banget. Dan ternyata Axel dan Aldo membuka fanpage kelas 7A di fb. Sampulnya kece, Bo, aku nampang di situ, hehehe.

“Heh, si Adissa kenapa, tuh? Dia kok, banting kursi sambil nangis?” tanya Yusri pelan.
“Halah, dia itu lagi dikerjain. Hari ini, ‘kan, dia ulang tahun,” jawab Aldo cuek. Matanya nyalang ngeliatin layar laptop, sibuk natap sampul fanpage itu. 

Yusri manggut-manggut doang, mengerti. Gak lama kemudian, Adissa nyariin aku dan bilang dia lagi pengen silet.

“Buat apaan, sih, nyari silet?” tanyaku.

“Mending aku bunuh diri kalo aku gabisa naik kelas,” jawab Adissa dengan nada suara datar. Baca itu baik-baik. Bunuh diri! Gila!

“Heh, jangan ngomong gitu, ah, Dis. Orang bunuh diri itu jaminannya neraka, loh. Mau masuk neraka, kamu?” aku menasihatinya sambil senyum, hampir ketawa. 

“Iyadeh. Bener juga. Yaudah, aku gak jadi bunuh diri,” sahut Adissa santai.
**
Sekitar jam sembilan, Adissa dipanggil lagi ke kantor di mejanya Pak Narto. Aku yang nganter diusir (duh, kata-katanya sadis, haha) Pak Narto, disuruh keluar. Begitu urusan Adissa selese, dia cerita sama aku kalo Pak Narto minta nomor HP bundanya. Katanya sih, ortunya Adissa mau ditelepon, diajak bicara soal nilai Adissa. Padahal mah, ortunya udah janji mau dateng jam sepuluh.

Finally, jam sepuluh dua mobil berhenti di depan sekolah. Gerbang langsung dibuka dan beberapa om-om masuk sambil memanggul kardus-kardus besar. Ternyata, itu adalah makanan yang mau dibagiin sama anak-anak 7A. Wih, bingkisannya kece. Satu anak dapat satu porsi ayam mini KFC. Padahal, di tempat tinggalku gaada KFC, loh. Kayaknya, ayam-ayam itu dipesan dari Tarakan dan dikirim via pesawat. Malinau-Tarakan, mah, cuma 15 menit doang.

Dan saat itulah I’m realizing that how rich Adissa’s parents are, HAHAHA. Satu porsi ayam mini KFC, satu bingkisan yang isinya macem-macem snack, dan satu buah kue blackforest gede yang di atasnya ada tulisan ‘HAPPY BIRTHDAY, ADISSA’ adalah bingkisan buat anak-anak 7A. Kardus-kardus yang isinya adalah barang-barang yang kusebutin tadi dibawa masuk ke kelas. Adissa enggak tau ini semua karena dia dan kedua ortunya ada di kantor. Adissa pasti panas-dingin, tuh, hehe.

Sampe setelah semuanya selesai, beberapa ibu-ibu masuk dan duduk bersama kami. Hm, kutebak sih, mereka semua adalah teman-teman bunda Adissa. Ayahnya Adissa itu tentara dengan pangkat tertinggi di Malinau. So, mereka mungkin diundang. Dan kado-kadonya gede-gede, Bo, bikin iri dan penasaran, “Apa sih, isinya?” wkwkwk ...

Kepala Pak Narto keliatan di jendela. Kelas langsung senyap. Begitu Pak Narto membuka pintu, kepala Adissa nyempil dan keliatan kaget dengan keadaan kelas. Dia langsung meluk bundanya sambil nangis uhuk-uhuk dan itu bikin orang satu kelas ketawa. Kami spontan nyanyiin lagu happy birthday dan PESTA DIMULAI!

Bu Riza— sebagai guru yang dimintai tolong sama bunda Adissa— bertindak sebagai MC acara. Dia minta ada orang yang ngewakilin anak-anak 7A untuk nyampein harapan-harapan buat Adissa kedepannya.

“NAH, KEFAS! AYO BERDIRI! PIDATO, PIDATO!” Anak-anak 7A kompak banget nyuruh Kefas, hahaha. Bukan tanpa alasan, sih. Semua udah tau kalo Kefas suka sama Adissa dan kami paham kalo saat ini bener-bener pas buat si Kefas, HAHAHA.

Bu Riza yang juga guru BK, tempat curhat orang satu sekolah, tau apa yang terjadi dan beliau cuma ketawa. Kefas cuma nunduk dan Adissa nepok jidat, nampak panik dengan keadaan, atau mungkin sama kata-kata yang bakal dilontarin Kefas. Udah satu menit terbuang dan nampaknya Bu Riza paham apa yang dirasain Kefas, sehingga dia meminta Axel sebagai Kepala Suku a.k.a ketua kelas untuk menyampaikan sambutan.

 “Harapan saya buat Adissa adalah semoga makin patuh sama orangtua, blablabla ...”

Maaf ya, sambutannya Axel galengkap, aku lupa, hehehe.

And then, aku disuruh menyampaikan sambutan karena aku adalah sahabat terdekatnya Adissa. Gila, gue gak bisa pidato! :(

“Harapan saya buat Adissa adalah ...” Pokoknya, sambutanku gak beda jauh sama Axel. Selanjutnya, Novia juga dimintai sambutan karena dia adalah teman sebangkunya Adissa. Setelah acara harapan dan doa selesai, Adissa niup lilin dibarengi nyanyian ‘Tiup Lilin’. Setelah itu, Adissa nganterin orang sekelas dengan sepotong kue dan ketika dia nyampe di kursinya Kefas, anak sekelas kompak bersuit-suit =))

Selanjutnya, kami ngelemparin tepung, hahaha. Meski aku bukan yang ultah, tapi aku kecipratan juga. Anak-anak cowok masih duduk anteng sama ayam mereka sambil ngobrol-ngobrol, sedangkan anak-anak cewek udah pada putih semua.

“Eh, lemparin anak-anak cowok, yuk,” ajakku kepada Adissa yang paling putih di antara kami semua. Dia juga udah kayak nenek-nenek karena rambutnya beruban, hahahah.
“Ayo!” Adissa semangat.

Axel, Aldo, Deevryan, Tata udah pada ngacir begitu aku sama Adissa ngejar mereka. Josua yang masih sibuk sama ayamnya juga gak kalah panik.

“Tunggu! TUNGGU BENTAR! AKU NYELAMETIN AYAMKU DULU!” seru Josua sambil memasukkan kotak berisi paket ayam mininya ke dalam tas dan mengikuti langkah sahabat-sahabatnya.

Dan sekarang, Aldo sendirian yang masih gak kena tepung. Teman-temannya ngacir ke WC dan ke depan sekolah di mana tempat sebuah profil tank berdiri keukeuh untuk mencuci badan. Aldo udah terpojok. Di belakang dan samping kirinya adalah tembok dan samping kanan adalah kursi. Dengan leluasa, aku dan Adissa melumuri badannya dengan tepung. Dan yang paling penting, sambil berjinjit karena Aldo lebih tinggi satu sentimeter dariku, aku langsung naburin tepung ke kepalanya.
Aduh!” jeritnya sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang kena tepung. Aku dan Adissa ketawa puas.

“Pulang-pulang, Aldo langsung ada kutunya, tuh, hahaha,” ledekku.
“Hahaha. Bener banget,” sahut Adissa seraya memberikan jempol kepadaku.

Setelah acara lempar tepung selesai, saatnya photo session! Lucu juga ngebayanginnya, soalnya yang dibersihin cuma muka, sedangkan baju masih pada celemotan tepung. But, whatever! Justru itu yang bikin momen ini gabakal terlupakan. Maaf gabisa ngasih foto-foto di photo session karena bahkan aku sendiri belum dikasih, hehe.
Last but not least, HAPPY BIRTHDAY ADISSA! WYATB, DEAR ({})

Thursday, 13 June 2013

Unforgettable Moment in UKS!

 Haloooo! Aulia baru balik dari hiatus Ujian Semester Genap! Doakan aku bisa ngalahin temen-temen dan paling enggak dapet peringkat 2, ya. Amiiin O:)

Okesip. Jadi, mulai kemaren itu classmeeting dan tadi pertandingan futsal. Trus, kakinya Aldo berdarah. Trus, dia pincang. Trus, Metha sama Nia ngajak minta kunci UKS ke Bu Helmi. Trus, setelah dibujuk, Aldo mau ke UKS. Trus ....
Aldo: "Mana jarum?"
Metha: "Enggak ada suntikan di sini."
Aldo: "Aku enggak minta suntikan. Aku minta jarum."
Me: "Mana ada jarum di sini."
Aldo: "Kalo gitu, gunting aja."
Me: "Meth, mana gunting?"
Metha: "Enggak ada gunting."
Me: "Nah, enggak ada gunting."
Aldo: "Kalo gitu, benda tajam lainnya ajalah."
Me: "Kakimu kenapa juga?"
Aldo: "Enggak pa-pa. Eh, Meth, ambilin rivanol."
*Metha membuka lemari, trus ngambil rivanol. Deevryan tau-tau dateng.*
Deevryan: "Eh, Do, nih ada alkohol. Tetesin, ya."
Metha: *buru-buru dateng* Heh! Mana boleh ditetesin alkohol!"
Aldo: "Iya, Yan. Tetesin alkohol, trus ambil korek. Trus... Duar! Kakiku meledak. Gitu, 'kan?"
Deevryan & Metha: *ketawa*
Me: ...
 

And then, Metha jadi kayak pembantu aja, disuruh ngambil macem-macem, aku cuma nonton, haha. Jadi, sebenernya Metha niatnya ngajakin aku yang notabenenya suka sama dunia obat-mengobati buat ngobatin Aldo. Tapi, malah dia yang sibuk sendiri sama lukanya. Sampe si Aldo minta benda tajam lagi dan menggeledah lemari. Begitu dapet staples, dia langsung ambil isinya. Ternyata, ada darah beku di kakinya, mau dikeluarin. Pantes dia minta benda tajem dari tadi -__-

Btw, aku kagum loh, sama kemampuannya Aldo. Hm, bukan apa-apa, I think he could be a doctor for himself. Yah, soalnya, secara gitukan dia cowok, trus kalo diliat dari mukanya, kayaknya kurang meyakinkan gitu, HAHAHA *ini capslocknya jebol beneran apa karena iri ya? hm, okeoke abaikan.

Jaid, intinya, contohin nih, cowok pinter satu ini. Be a doctor for yourself! *maksa